Nikmati Update Berita Terbaru dari Bicaraa.com Setiap Hari Melalui Saluran Whatsapp, Bisa Klik Disini
POHUWATO, BICARAA.COM– Ketua Komisi II DPRD Provinsi Gorontalo, Mikson Yapanto, melaksanakan reses masa persidangan ketiga Tahun Sidang 2025–2026 di Desa Padengo, Kecamatan Duhiadaa, Kabupaten Pohuwato, Kamis (2/7/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Camat Duhiadaa Burhan Moputi, Kepala Desa Padengo Pitroy Mahmud, tokoh masyarakat, serta puluhan petani.
Reses menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi, khususnya di sektor pertanian. Salah satu aspirasi datang dari petani Abdulmanan Lukun yang menyoroti kondisi pertanian di Kecamatan Duhiadaa.
Menurut Abdulmanan, Duhiadaa yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung beras Kabupaten Pohuwato kini justru menghadapi persoalan serius. Ia mengatakan, petani telah mengalami enam kali gagal panen akibat sedimentasi dari hulu yang menghambat aliran air menuju areal persawahan.
“Duhiadaa ini merupakan lumbung beras Kabupaten Pohuwato. Tapi kenyataannya kami sudah enam kali mengalami gagal panen. Kondisi ini sangat memukul kehidupan para petani,” ujar Abdulmanan.
Ia berharap pemerintah tidak lagi hanya memberikan janji tanpa diikuti langkah nyata. Menurutnya, persoalan tersebut sudah berkali-kali disampaikan, namun hingga kini belum terselesaikan.
“Kami tidak ingin lagi hanya diberi harapan. Jangan sekadar memberikan iming-iming, sementara persoalan yang kami hadapi belum juga terselesaikan. Kami sudah cukup lama memperjuangkan aspirasi ini,” katanya.
Abdulmanan menjelaskan, sebagian besar petani sebenarnya telah memiliki benih dan pupuk. Namun, sawah tetap tidak dapat ditanami karena sedimentasi menyebabkan pasokan air tidak lagi mengalir secara normal.
“Petani sudah memiliki benih dan pupuk. Tetapi lahan tidak bisa ditanami karena sedimentasi dari hulu membuat air tidak mengalir ke sawah. Itu yang paling kami rasakan saat ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut juga berdampak terhadap ekonomi masyarakat. Banyak petani telah mengeluarkan biaya untuk mengolah lahan, membeli benih, pupuk, hingga membayar tenaga kerja, tetapi tidak memperoleh hasil karena sawah tidak bisa ditanami.
“Kami berharap pemerintah segera menyelesaikan persoalan irigasi ini. Kalau air kembali mengalir, kami yakin petani bisa kembali bangkit dan menghasilkan panen yang baik,” tambah Abdulmanan.
Menanggapi aspirasi tersebut, Mikson Yapanto menegaskan persoalan pertanian di Duhiadaa menjadi perhatian serius Komisi II DPRD Provinsi Gorontalo.
Ia mengaku telah berkoordinasi langsung dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi II Gorontalo untuk mempercepat penanganan persoalan tersebut.
“Saya sudah berkoordinasi langsung dengan pihak BWS Gorontalo agar persoalan ini segera ditindaklanjuti. Kami tidak ingin petani terus mengalami kerugian akibat persoalan yang sama setiap musim tanam,” kata Mikson.
Sebagai langkah awal, ia mengatakan pemerintah akan menghadirkan program Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) sebanyak 20 titik dengan kedalaman yang disesuaikan dengan kondisi sumber air di wilayah tersebut.
“Insyaallah akan dibangun 20 titik Jaringan Irigasi Air Tanah. Program ini diharapkan mampu membantu memenuhi kebutuhan air bagi lahan pertanian masyarakat sembari menunggu penanganan menyeluruh terhadap sedimentasi,” jelasnya.
Selain pembangunan JIAT, Mikson juga memastikan akan memperjuangkan bantuan bagi masyarakat yang terdampak gagal panen berulang.
“Enam kali gagal panen tentu memberikan dampak yang sangat berat bagi masyarakat. Karena itu saya juga akan memperjuangkan bantuan bagi warga yang saat ini masuk kategori rawan pangan. Jangan sampai masyarakat yang selama ini menjadi penopang ketahanan pangan justru mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri,” tegasnya.
Ia menegaskan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga ada solusi yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Saya ingin petani Duhiadaa kembali mengolah sawahnya, kembali panen, dan perekonomian mereka kembali pulih. Aspirasi ini akan terus saya perjuangkan,” pungkas Mikson.
Sementara itu, Camat Duhiadaa Burhan Moputi mengapresiasi kepedulian Mikson Yapanto terhadap persoalan yang dihadapi petani.
Menurutnya, langkah cepat yang dilakukan dengan berkoordinasi langsung bersama instansi teknis menunjukkan keseriusan dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi perhatian Pak Mikson Yapanto terhadap masyarakat Duhiadaa. Beliau tidak hanya datang mendengarkan aspirasi, tetapi juga langsung mengambil langkah dengan membangun koordinasi bersama Balai Wilayah Sungai. Kami optimistis, jika pengawalan ini terus dilakukan, persoalan yang selama ini dihadapi petani dapat segera teratasi,” ujar Burhan. (*)










