Nikmati Update Berita Terbaru dari Bicaraa.com Setiap Hari Melalui Saluran Whatsapp, Bisa Klik Disini
GORONTALO, BICARAA.COM – Langit Gorontalo seakan kehilangan satu cahaya pada Jumat dini hari, 10 Juli 2026. Kabar duka datang dari Jakarta.
Politisi senior Partai NasDem, anggota Komisi VI DPR RI, sekaligus Chairman Panasonic Gobel Group, Rachmat Gobel, meninggal dunia pada pukul 03.20 WIB di RS Brawijaya Tebet, Jakarta Selatan.
Kabar berpulangnya Rachmat Gobel disampaikan pihak keluarga melalui pernyataan resmi yang diunggah di akun Instagram @rachmatgobel_rg.
“Dengan penuh keikhlasan dan rasa duka yang mendalam, kami, Keluarga Besar Bapak Rachmat Gobel, menyampaikan kabar bahwa Bapak Rachmat Gobel telah berpulang ke rahmatullah pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul 03.20 WIB di RS Brawijaya Tebet, Jakarta Selatan,” tulis keluarga dalam pernyataan tersebut.
Kepergian Rachmat Gobel meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, dunia usaha, dan dunia politik nasional, tetapi juga bagi masyarakat Gorontalo.
Sosok yang lahir di Gorontalo pada 3 September 1962 itu selama puluhan tahun dikenal sebagai figur yang tidak pernah melupakan tanah kelahirannya.
Di tengah berbagai kesibukannya sebagai pengusaha nasional dan politisi, Gorontalo selalu memiliki ruang khusus dalam setiap langkah pengabdiannya.
Baginya, Gorontalo bukan sekadar daerah pemilihan yang diwakilinya di DPR RI. Daerah ini adalah tanah leluhur yang selalu ia sebut sebagai bagian dari identitas dan perjalanan hidupnya.
Sejak kecil, Rachmat Gobel telah diperkenalkan dengan Gorontalo oleh ayahnya, almarhum Thayeb Mohammad Gobel, pendiri Gobel Group yang dikenal sebagai pelopor industri elektronik nasional.
Dari sang ayah, Rachmat Gobel tidak hanya mewarisi semangat membangun, tetapi juga nilai hidup yang dikenal sebagai Filosofi Pohon Pisang.
Bagi keluarga Gobel, pohon pisang menjadi simbol kebermanfaatan karena setiap bagiannya dapat memberi manfaat bagi kehidupan.
Filosofi itu mengajarkan tentang semangat melayani, rela berkorban, menyiapkan generasi penerus, dan memastikan setiap langkah yang dilakukan membawa manfaat bagi masyarakat.
Nilai itulah yang kemudian menjadi pegangan Rachmat Gobel sepanjang perjalanan hidupnya.
Ketika dipercaya menjadi wakil masyarakat Gorontalo di Senayan, ia berupaya menerjemahkan filosofi tersebut melalui berbagai gagasan dan perjuangan.
Ia memilih turun langsung menemui masyarakat, mendengar keluhan petani, nelayan, pelaku UMKM, hingga generasi muda yang ingin memperoleh kesempatan lebih baik.
Di berbagai kesempatan, ia selalu menegaskan bahwa pembangunan Gorontalo tidak boleh hanya bergantung pada bantuan pemerintah pusat.
Daerah harus tumbuh dengan kekuatan masyarakatnya sendiri melalui pertanian, perikanan, UMKM, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Filosofi lain yang kerap disampaikan Rachmat Gobel adalah bahwa pembangunan harus memanusiakan manusia.
Prinsip itu juga menjadi nilai yang ia pegang sejak memimpin Panasonic Gobel Group.
Bagi Rachmat Gobel, keberhasilan sebuah daerah tidak hanya diukur dari berdirinya gedung atau bertambahnya investasi, tetapi dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang merasakan manfaat pembangunan secara langsung.
Karena itu, hampir setiap kunjungannya ke Gorontalo selalu diisi dengan dialog bersama masyarakat.
Ia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Aspirasi petani, nelayan, pelaku usaha kecil, hingga mahasiswa menjadi bekal yang kemudian ia perjuangkan di tingkat nasional.
Tidak sedikit masyarakat yang mengenangnya sebagai sosok yang mudah dijumpai ketika berada di Gorontalo.
Ia hadir dalam kegiatan pertanian, berdiskusi dengan pelaku UMKM, menghadiri agenda pendidikan, hingga mendorong berbagai kerja sama untuk membuka peluang investasi di daerah.
Dedikasinya terhadap Gorontalo membuat masyarakat memberikan gelar adat Ti Bulilango Hunggia, yang berarti Pemberi Cahaya Negeri.
Gelar tersebut menjadi simbol penghormatan atas pengabdian panjangnya dalam memperjuangkan kemajuan daerah yang dicintainya.
Bagi masyarakat Gorontalo, Rachmat Gobel bukan hanya seorang pengusaha sukses atau politisi nasional.
Ia adalah putra daerah yang memilih kembali memberi makna bagi tanah kelahirannya.
Di tengah pencapaian yang diraih di tingkat nasional, ia tetap membawa Gorontalo dalam setiap gagasan dan perjuangannya.
Kini, sosok itu telah berpulang. Namun jejak pengabdian, nilai-nilai kepemimpinan, serta kecintaannya kepada Gorontalo akan terus dikenang sebagai bagian dari sejarah perjalanan daerah ini. (*)










