Gorontalo

Gorontalo Puncak Kemarau, BMKG Ungkap Perkiraan Musim Hujan

×

Gorontalo Puncak Kemarau, BMKG Ungkap Perkiraan Musim Hujan

Sebarkan artikel ini
Stasiun Meterologi Kelas 1 Djalaludin Gorontalo, Gambar: (Rizal/bicaraa.com)
Nikmati Update  Berita Terbaru dari Bicaraa.com Setiap Hari Melalui Saluran Whatsapp, Bisa Klik Disini

GORONTALO, BICARAA.COM — Provinsi Gorontalo masih berada dalam periode musim kemarau yang cukup panjang.

Stasiun Klimatologi Gorontalo menyebut puncak kemarau berlangsung pada Agustus hingga September 2026, sementara kondisi kering diperkirakan mulai meluruh pada akhir Oktober.

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu bersiap menghadapi dampak kekeringan, terutama terkait ketersediaan air bersih, risiko kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan terhadap produksi pertanian.

Kepala Stasiun Klimatologi Gorontalo, Merpati T. Nalle, mengatakan kemarau yang terjadi saat ini berada pada kategori kering hingga sangat kering.

“Musim kemarau di Provinsi Gorontalo saat ini telah memasuki puncaknya antara bulan Agustus sampai September dan akan mulai meluruh di akhir Oktober,” kata Merpati.

Merpati juga menjelaskan, setelah kondisi kemarau mulai meluruh pada akhir Oktober, wilayah Gorontalo diperkirakan memasuki masa transisi menuju musim hujan sekitar November 2026.

“Setelah kemarau mulai meluruh di akhir Oktober, kita akan memasuki transisi ke musim hujan sekitar November,” ujarnya.

Namun, Merpati mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap kondisi tersebut sebagai tanda bahwa seluruh wilayah Gorontalo akan langsung memasuki musim hujan secara serentak.

Masa transisi merupakan periode peralihan sehingga kondisi cuaca masih dapat berubah.

Panjang dan kuatnya kemarau tahun ini tidak terlepas dari fenomena El Nino yang sedang aktif di wilayah Indonesia.

Fenomena tersebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat kondisi kering dan memperpanjang periode kemarau.

“Kemarau sangat panjang dengan kategori kering sampai dengan sangat kering karena berbarengan dengan fenomena El Nino yang saat ini sedang aktif di wilayah Indonesia dengan intensitas kuat,” jelas Merpati.

Kondisi tersebut juga menjadi perhatian karena El Nino diprediksi belum segera berakhir. BMKG memperkirakan fenomena tersebut dapat bertahan hingga awal 2027.

“El Nino diprediksi akan bertahan hingga awal 2027,” kata Merpati.

Meski hujan diperkirakan mulai kembali sekitar November, kesiapsiagaan tetap diperlukan.

Masyarakat diminta tidak mengabaikan kondisi kekeringan yang masih berlangsung hingga kemarau mulai meluruh.

Salah satu perhatian utama adalah ketersediaan air bersih. Kondisi kering yang berlangsung cukup panjang dapat meningkatkan kebutuhan terhadap cadangan air, sehingga pengelolaan dan penggunaan air secara bijak perlu dilakukan.

“Kami mengimbau kesiapsiagaan lintas sektoral dan masyarakat untuk menjaga ketersediaan air bersih,” ujar Merpati.

Selain air bersih, BMKG juga mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan. Kondisi vegetasi dan lingkungan yang kering membuat sumber api lebih mudah menyebar sehingga pencegahan perlu dilakukan sejak dini.

“Kita juga perlu mencegah kebakaran hutan dan lahan serta mengantisipasi gangguan produksi di bidang pertanian,” katanya.

Sektor pertanian menjadi perhatian lain karena kekeringan dapat memengaruhi ketersediaan air untuk kegiatan produksi. Karena itu, langkah antisipasi diperlukan agar dampak terhadap aktivitas pertanian dapat ditekan.

Kesiapsiagaan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat, tetapi membutuhkan koordinasi pemerintah dan berbagai sektor.

Berdasarkan informasi BMKG, pemerintah Provinsi Gorontalo bersama pemerintah kabupaten telah mengeluarkan surat imbauan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi kekeringan.

Surat imbauan itu menjadi salah satu langkah antisipasi menghadapi dampak kemarau, terutama dalam menjaga ketersediaan air bersih, mencegah kebakaran hutan dan lahan, serta menjaga keberlangsungan produksi pertanian.

Dengan puncak kemarau yang masih berlangsung hingga September, masyarakat Gorontalo masih perlu meningkatkan kewaspadaan.

Kondisi diperkirakan mulai meluruh pada akhir Oktober sebelum memasuki masa transisi menuju musim hujan sekitar November 2026.

BMKG juga mengingatkan bahwa pengaruh El Nino yang diprediksi bertahan hingga awal 2027 membuat kewaspadaan terhadap kondisi kering tetap diperlukan, meskipun hujan mulai kembali pada periode musim hujan mendatang. (*)