GorontaloNasionalUlasan

Jejak yang Tak Pernah Hilang di Tanah Leluhur

×

Jejak yang Tak Pernah Hilang di Tanah Leluhur

Sebarkan artikel ini
Alm. Rachmat Gobel Saat Memaparkan Penataan kembali Kawasan Bumi Perkemahan (Buper) di Desa Bongohulawa, Kabupaten Gorontalo, Gambar: (bicaraa.com)
Nikmati Update  Berita Terbaru dari Bicaraa.com Setiap Hari Melalui Saluran Whatsapp, Bisa Klik Disini

BICARAA.COM“Jika ingin dikenang, jangan tinggalkan harta. Tinggalkan manusia yang lebih baik daripada dirimu.” Barangkali, begitulah cara paling sederhana untuk memahami perjalanan hidup Rachmat Gobel.

Di mata publik, ia dikenal sebagai pengusaha nasional yang melanjutkan estafet kepemimpinan Gobel Group, pernah dipercaya menjadi Menteri Perdagangan Republik Indonesia, dan hingga akhir hayatnya mengemban amanah sebagai Anggota DPR RI.

Namun, bagi masyarakat Gorontalo, Rachmat Gobel memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia bukan sekadar tokoh nasional yang berasal dari keluarga besar Gobel, melainkan seorang anak daerah yang tidak pernah memutus ikatan batinnya dengan tanah leluhur.

Bagi Rachmat Gobel, Gorontalo bukan sekadar tempat kelahiran ayahnya. Daerah di ujung utara Pulau Sulawesi itu adalah ruang tempat nilai-nilai kehidupan diwariskan, tempat sejarah keluarga dimulai, dan tempat ia merasa memiliki kewajiban moral untuk terus memberi.

Karena itu, di sela kesibukannya memimpin perusahaan, menjalankan tugas kenegaraan, dan berkeliling Indonesia, selalu ada waktu yang ia sisihkan untuk kembali ke Gorontalo. Kepulangannya bukan untuk menunjukkan siapa dirinya, melainkan untuk memastikan daerah yang dicintainya terus bergerak menuju masa depan.

Tidak banyak tokoh nasional yang memiliki ikatan emosional sedemikian kuat dengan daerah leluhurnya. Rachmat Gobel adalah salah satunya. Hampir setiap kali berada di Gorontalo, ia memilih mendengar daripada berbicara.

Ia menemui petani di lahan pertanian, berdiskusi dengan nelayan di pesisir, berbincang dengan pelaku UMKM, mengunjungi kampus, hingga duduk bersama tokoh adat. Dari percakapan-percakapan sederhana itulah lahir berbagai gagasan tentang bagaimana Gorontalo dapat berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.

Optimisme selalu menjadi bahasa yang ia gunakan ketika berbicara tentang Gorontalo. Ia tidak pernah melihat daerah ini sebagai wilayah yang tertinggal atau harus dikasihani.

Sebaliknya, ia melihat hamparan sawah yang subur, laut yang kaya, masyarakat yang pekerja keras, dan budaya yang kuat sebagai modal besar untuk membangun masa depan. Yang dibutuhkan, bukan belas kasihan, melainkan keberanian untuk bermimpi besar dan bekerja bersama.

Pandangan seperti itu tidak lahir begitu saja. Semua bermula dari rumah tempat ia dibesarkan.

Pohon Pisang yang Mengajarkan Arti Kehidupan

Di balik perjalanan panjang Rachmat Gobel sebagai pengusaha, negarawan, dan putra Gorontalo, berdiri sosok yang menjadi fondasi seluruh cara pandangnya terhadap kehidupan, yakni ayahnya, Thayeb Mohammad Gobel.

Pendiri Gobel Group itu tidak hanya mewariskan perusahaan yang kemudian berkembang menjadi salah satu kelompok usaha terbesar di Indonesia. Lebih dari itu, ia meninggalkan warisan nilai yang terus hidup dalam setiap langkah pengabdian putranya.

Salah satu warisan yang paling melekat adalah filosofi pohon pisang. Bagi Thayeb Gobel, pohon pisang mengajarkan makna kehidupan yang sederhana, tetapi mendalam. Pohon itu tidak hidup untuk dirinya sendiri.

Setelah menghasilkan buah, ia memang akan menyelesaikan siklus hidupnya. Namun, sebelum itu terjadi, ia lebih dahulu melahirkan tunas-tunas baru yang akan tumbuh, berkembang, dan kembali menghasilkan buah. Kehidupan tidak berhenti pada satu pohon, tetapi terus berlanjut melalui generasi berikutnya.

Filosofi itu kemudian menjadi salah satu prinsip yang membentuk karakter Rachmat Gobel. Ia memandang keberhasilan seseorang tidak diukur dari besarnya kekayaan yang dimiliki atau tingginya jabatan yang pernah diraih.

Keberhasilan sejati adalah ketika seseorang mampu melahirkan lebih banyak orang yang tumbuh, memberi kesempatan kepada yang lain untuk berkembang, serta meninggalkan manfaat yang terus dirasakan bahkan setelah dirinya tiada.

Nilai tersebut berjalan beriringan dengan ajaran lain yang selalu diwariskan Thayeb Gobel, yakni “Libatkan Orang Kecil. Filosofi itu menjadi ruh Gobel Group sekaligus arah pengabdian keluarga Gobel selama puluhan tahun.

Dalam pandangan mereka, pembangunan tidak boleh hanya dinikmati oleh segelintir orang. Kemajuan harus membuka ruang bagi masyarakat kecil untuk ikut tumbuh, bekerja, dan merasakan hasil pembangunan.

Tidak mengherankan jika sepanjang perjalanan hidupnya, Rachmat Gobel lebih banyak berbicara tentang pemberdayaan masyarakat daripada pencapaian pribadinya. Di dunia usaha, ia mendorong kemitraan dengan pelaku usaha kecil dan menengah.

Dalam tugasnya sebagai wakil rakyat, ia konsisten memperjuangkan kepentingan petani, nelayan, UMKM, pendidikan, dan pemerataan ekonomi. Sementara di Gorontalo, ia memandang pembangunan bukan sekadar menghadirkan infrastruktur, tetapi membangun manusia yang mampu mengelola potensi daerahnya sendiri.

Cara berpikir itu menjelaskan mengapa hampir setiap gagasan yang ia bawa untuk Gorontalo selalu berpusat pada masyarakat.

Ia ingin petani memperoleh nilai tambah dari hasil panennya, nelayan menikmati kesejahteraan dari kekayaan laut, UMKM naik kelas dan mampu menembus pasar nasional, serta generasi muda memiliki keberanian untuk bermimpi besar tanpa harus meninggalkan tanah kelahirannya.

Bagi Rachmat Gobel, itulah makna sesungguhnya dari sebuah warisan. Bukan meninggalkan harta yang kemudian habis dibagi, melainkan meninggalkan manusia-manusia yang terus bertumbuh, melahirkan gagasan baru, dan meneruskan kebaikan bagi generasi berikutnya.

Filosofi pohon pisang yang diwariskan ayahnya kemudian menjelma menjadi prinsip hidup yang mewarnai seluruh jejak pengabdiannya, termasuk dalam upayanya membangun masa depan Gorontalo.

Pariwisata sebagai Pintu Masuk Kemajuan

Bagi banyak orang, pembangunan sering kali dimaknai sebatas jalan yang mulus, gedung yang megah, atau investasi yang terus bertambah. Namun, Rachmat Gobel melihat pembangunan dari sudut yang berbeda.

Ia percaya sebuah daerah akan tumbuh ketika masyarakatnya memiliki rasa bangga terhadap tempat mereka sendiri. Dari kebanggaan itulah lahir keinginan untuk menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan daerah kepada dunia.

Keyakinan itu membuat Rachmat Gobel memberi perhatian besar pada sektor pariwisata Gorontalo. Baginya, pariwisata bukan sekadar destinasi yang indah untuk difoto, melainkan wajah sebuah daerah.

Ketika orang datang dan terkesan, mereka akan membawa pulang cerita. Cerita itulah yang kemudian menjadi promosi paling jujur bagi sebuah daerah.

Jauh sebelum Gorontalo ditetapkan sebagai tuan rumah Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026, Rachmat Gobel telah berkali-kali mengajak pemerintah daerah untuk membenahi berbagai destinasi wisata.

Ia melihat Gorontalo memiliki kekayaan alam yang tidak kalah dibanding daerah lain. Namun, potensi tersebut membutuhkan pengelolaan dan penataan yang tepat agar mampu berkembang menjadi destinasi wisata yang berdaya saing.

Perhatian Rachmat Gobel terhadap sektor pariwisata tidak berhenti pada gagasan. Melalui revitalisasi sejumlah ikon wisata daerah, ia mendorong penguatan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak ekonomi sekaligus bagian dari persiapan menyambut Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026.

Salah satu yang mendapat perhatian besar adalah Pentadio Resort di tepian Danau Limboto, Kabupaten Gorontalo.

Kawasan wisata yang telah lama menjadi ikon daerah itu ditata kembali melalui pembenahan area pelayanan pengunjung, rehabilitasi kolam rendaman air panas, penataan kawasan pendukung, hingga penambahan wahana baru, termasuk replika kucing raksasa interaktif yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Gagasan itu lahir dari keyakinan Rachmat Gobel bahwa Pentadio tidak cukup hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi harus berkembang menjadi destinasi yang mampu menghidupkan UMKM, membuka peluang usaha, serta menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Komitmen yang sama juga terlihat pada Menara Pakaya di pusat Kota Limboto. Kawasan yang menjadi salah satu ikon Kabupaten Gorontalo itu dipercantik melalui penataan ruang terbuka, penyempurnaan ornamen menara, penambahan fasilitas pendukung, serta pembangunan ruang publik yang lebih modern dan nyaman.

Di kawasan ini juga dihadirkan videotron berbentuk bola dunia yang menjadi salah satu daya tarik baru, sekaligus memperkuat identitas Limboto sebagai wajah Kabupaten Gorontalo. Bagi Rachmat Gobel, sebuah ikon bukan sekadar bangunan yang menjulang tinggi, tetapi simbol optimisme sebuah daerah yang percaya pada masa depannya sendiri.

Sementara itu, di Danau Perintis, Kabupaten Bone Bolango, sentuhan revitalisasi diwujudkan melalui penambahan replika kapal VOC berbahan tembaga, kawasan kuliner, lampu-lampu tematik yang terinspirasi dari komoditas pertanian, hingga berbagai elemen lanskap yang memperkuat daya tarik kawasan.

Itulah cita-cita yang selalu dibawa Rachmat Gobel dalam setiap gagasan pembangunannya. Destinasi wisata harus menghadirkan manfaat bagi masyarakat sekitar, investasi harus membuka kesempatan kerja, dan pembangunan harus memberi ruang bagi pelaku usaha kecil untuk tumbuh bersama.

Pandangan itu pula yang kemudian menjadi dasar dukungannya terhadap penyelenggaraan PENAS XVII di Gorontalo. Bagi sebagian orang, PENAS hanyalah agenda lima tahunan yang mempertemukan petani dan nelayan dari seluruh Indonesia.

Namun, bagi Rachmat Gobel, kegiatan itu memiliki makna yang jauh lebih besar. Ia melihat PENAS sebagai momentum untuk memperlihatkan wajah baru Gorontalo kepada Indonesia.

Sebelum dilaksanakan, ia membayangkan puluhan ribu peserta datang ke Gorontalo, menikmati kuliner lokal, mengunjungi objek wisata, membeli produk UMKM, melihat hasil pertanian, hingga merasakan keramahan masyarakatnya.

Ketika mereka kembali ke daerah masing-masing, yang mereka bawa bukan hanya pengalaman mengikuti PENAS, tetapi juga cerita tentang Gorontalo yang indah, ramah, dan penuh potensi.

Karena itu, dalam berbagai kesempatan, Rachmat Gobel menegaskan perjuangannya menghadirkan PENAS bukanlah demi kepentingan pribadi ataupun pencitraan politik.

Ia menyebutnya sebagai bentuk penghormatan kepada tanah leluhur dan ungkapan syukur atas warisan yang diberikan ayahnya. Dalam benaknya Gorontalo tidak boleh hanya menjadi penonton dalam pembangunan nasional.

Daerah ini harus tampil sebagai pelaku, menunjukkan bahwa masyarakatnya mampu bekerja, berinovasi, dan menyambut masa depan dengan penuh optimisme.

Cara pandang itulah yang membuat banyak orang mengenang Rachmat Gobel bukan hanya sebagai pengusaha atau anggota DPR RI.

Ia dikenang sebagai seseorang yang selalu berbicara tentang masa depan Gorontalo, bahkan ketika kepentingan pribadinya tidak lagi menjadi alasan.

Hari ini, Rachmat Gobel memang telah berpulang. Namun, kepergian seorang pemimpin tidak selalu mengakhiri pengaruhnya.

Ada gagasan yang tetap hidup, ada nilai yang terus diwariskan, dan ada mimpi yang akan dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Barangkali, di situlah makna filosofi pohon pisang yang diajarkan Thayeb Gobel kepada putranya. Pohon pisang tidak pernah hidup untuk dirinya sendiri. Setelah menghasilkan buah, ia memang akan tumbang.

Akan tetapi, sebelum itu terjadi, ia telah meninggalkan tunas-tunas baru yang akan tumbuh lebih kuat dan melanjutkan kehidupan. (*)