Pohuwato

Festival Olahraga Masyarakat Torosiaje Sukses Digelar, Sport Tourism Dongkrak Ekonomi Lokal

×

Festival Olahraga Masyarakat Torosiaje Sukses Digelar, Sport Tourism Dongkrak Ekonomi Lokal

Sebarkan artikel ini
Sultan Kalupe, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo Menyerahkan Hadiah Piala Para Pemenang, Gambar: (bicaraa.com)

Update Berita Terbaru dari Bicaraa.com Setiap Hari Melalui Saluran Whatsapp, Bisa Klik Disini


POHUWATO, BICARAA.COM– Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (Kormi) Provinsi Gorontalo sukses menggelar festival olahraga masyarakat di Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, yang berlangsung selama tiga hari, Kamis hingga Sabtu, 26–28 Maret 2026.

Kegiatan ini menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat dan wisatawan, dengan beragam lomba unik yang mengangkat kearifan lokal wilayah pesisir.

Festival ini menghadirkan berbagai perlombaan menarik yang sebagian besar digelar di atas air, menyesuaikan dengan karakteristik Desa Torosiaje sebagai perkampungan laut.

Di antaranya lomba tarik tambang di atas perahu yang memacu adrenalin, lomba perahu beregu, lomba dayung perorangan, lomba ketahanan menyelam, hingga lomba renang.

Ketua Kormi Provinsi Gorontalo, Mikson Yapanto, menyampaikan kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk melestarikan olahraga tradisional, tetapi juga sebagai langkah strategis dalam mendorong sektor pariwisata daerah.

Menurutnya, festival olahraga masyarakat memiliki potensi besar dalam mengembangkan konsep sport tourism yang berbasis budaya lokal.

“Festival ini kami dorong sebagai bagian dari pengembangan sport tourism di Gorontalo. Selain menjaga tradisi olahraga masyarakat, kegiatan ini juga mampu menarik wisatawan untuk datang dan mengenal lebih dekat potensi daerah,” ujar Mikson.

Mikson juga menegaskan festival olahraga masyarakat di Torosiaje merupakan bagian dari upaya memperkenalkan identitas budaya pesisir Gorontalo ke tingkat yang lebih luas.

Kekayaan tradisi lokal yang dikemas dalam bentuk olahraga memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Kita ingin Torosiaje tidak hanya dikenal sebagai desa laut, tetapi juga sebagai pusat kegiatan olahraga tradisional berbasis budaya. Ini adalah kekuatan lokal yang harus terus kita angkat dan promosikan,” katanya.

Ia menambahkan, konsep kegiatan yang memadukan olahraga, budaya, dan pariwisata menjadi strategi penting dalam menghadapi persaingan destinasi wisata di era saat ini.

Dengan pendekatan tersebut, daerah tidak hanya menjual keindahan alam, tetapi juga pengalaman unik yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.

“Sport tourism ini bukan sekadar lomba, tapi pengalaman. Wisatawan datang, melihat budaya, ikut merasakan, bahkan terlibat langsung. Itu yang membuat mereka ingin kembali lagi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Mikson berharap dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat, terus diperkuat agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan skala yang lebih besar di masa mendatang.

“Kami optimistis jika semua pihak bersinergi, festival seperti ini bisa menjadi event nasional bahkan internasional. Dampaknya tentu akan jauh lebih besar, baik untuk promosi daerah maupun peningkatan ekonomi masyarakat,” tutupnya.

Ia juga menambahkan dampak ekonomi dari kegiatan ini mulai dirasakan oleh masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar lokasi festival.

Kehadiran pengunjung dari berbagai daerah memberikan peluang bagi warga untuk meningkatkan pendapatan melalui penjualan makanan, kerajinan, dan produk lokal lainnya.

“UMKM dan desa wisata menjadi sektor yang langsung terdampak positif. Dengan banyaknya pengunjung yang datang, perputaran ekonomi di tingkat desa ikut meningkat. Ini yang menjadi harapan kami agar kegiatan seperti ini terus berkelanjutan,” tambahnya.

Antusiasme masyarakat terlihat tinggi sepanjang pelaksanaan festival.

Tidak hanya warga lokal, sejumlah pengunjung dari luar daerah juga turut hadir untuk menyaksikan dan berpartisipasi dalam berbagai lomba yang diselenggarakan. (*)