Nikmati Update Berita Terbaru dari Bicaraa.com Setiap Hari Melalui Saluran Whatsapp, Bisa Klik Disini
BICARAA.COM– Pemerintah Iran secara resmi mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi, Ali Khamenei, tewas dalam operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Kematian Khamenei mengakhiri kepemimpinannya selama 37 tahun dan menandai babak baru yang penuh ketidakpastian bagi Republik Islam Iran.
Kabar tersebut segera mengguncang lanskap politik domestik maupun kawasan Timur Tengah.
Perhatian kini tertuju pada Majelis Pakar, badan ulama beranggotakan 88 orang yang secara konstitusional bertanggung jawab menunjuk Pemimpin Tertinggi berikutnya.
Di tengah situasi geopolitik yang memanas, proses suksesi ini dinilai sebagai momen paling krusial bagi stabilitas Iran dalam beberapa dekade terakhir.
Di antara sejumlah nama yang kembali mencuat, Mojtaba Khamenei, putra kedua mendiang pemimpin, menjadi figur yang paling banyak diperbincangkan.
Mojtaba Khamenei dan Dukungan dari Garda Revolusi
Mojtaba Khamenei dikenal sebagai ulama tingkat menengah yang selama ini disebut-sebut memiliki pengaruh signifikan di balik layar kekuasaan.
Ia dilaporkan memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), institusi militer elite yang memegang peran strategis dalam struktur keamanan dan politik Iran.
Mojtaba juga memiliki latar belakang militer. Ia pernah bertugas selama Perang Iran-Irak, pengalaman yang memperkuat citranya di kalangan garis keras.
Selama bertahun-tahun, ia disebut berperan sebagai penjaga gerbang politik ayahnya dan memiliki akses langsung terhadap lingkaran dalam kekuasaan.
Namun demikian, laporan media internasional menyebut bahwa pada tahun lalu Khamenei telah mengidentifikasi tiga ulama senior sebagai kandidat potensial penerusnya.
Nama Mojtaba tidak termasuk dalam daftar tersebut, meskipun spekulasi mengenai peluangnya terus beredar luas.
Terbentur Konstitusi dan Tradisi Anti-Dinasti
Kendati memiliki jaringan kuat, jalan Mojtaba menuju kursi Pemimpin Tertinggi tidaklah mulus.
Konstitusi Republik Islam Iran mensyaratkan bahwa pengganti harus memiliki pengalaman politik dan kredensial keagamaan tingkat tinggi.
Para pengamat menilai Mojtaba belum memenuhi kriteria tersebut secara formal, meskipun ia lama berkiprah di lingkungan Kantor Pemimpin Tertinggi.
Selain itu, tradisi politik Syiah di Iran secara historis menolak suksesi berbasis keluarga.
Konvensi keagamaan menyatakan bahwa legitimasi kepemimpinan spiritual tidak diwariskan secara turun-temurun, kecuali dalam konteks 12 Imam Syiah yang diyakini ditunjuk secara ilahi.
Fakta sejarah juga memperkuat preseden tersebut.
Pada 1989, Khamenei sendiri terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi, mengungguli Ahmad Khomeini, putra pendiri Republik Islam, Ruhollah Khomeini.
Bahkan dalam beberapa kesempatan, Khamenei secara terbuka menyatakan bahwa pemerintahan turun-temurun tidak sejalan dengan prinsip Islam.
Beberapa anggota Majelis Pakar sebelumnya mengungkap bahwa setiap upaya membahas kemungkinan suksesi Mojtaba pernah dihentikan langsung oleh Khamenei demi menghindari kecurigaan publik mengenai praktik dinasti politik.
Masa Depan Iran di Tengah Ketidakpastian
Dengan wafatnya Khamenei, Iran kini memasuki fase transisi yang sensitif.
Para analis memperingatkan bahwa jika Majelis Pakar memilih figur yang kontroversial, potensi perpecahan internal di kalangan elite penguasa bisa semakin dalam dan memicu reaksi publik.
Di tengah tekanan eksternal dan dinamika regional yang kompleks, keputusan suksesi akan menentukan arah politik Iran ke depan apakah tetap mempertahankan garis keras atau membuka ruang konsolidasi baru.
Dunia kini menanti langkah Majelis Pakar, sementara Republik Islam bersiap menghadapi salah satu momen paling menentukan dalam sejarah modernnya. (*)









