Pohuwato

PETI Menggila di Popayato, Fadel Hamzah: Lingkungan di Ambang Hancur

×

PETI Menggila di Popayato, Fadel Hamzah: Lingkungan di Ambang Hancur

Sebarkan artikel ini

Nikmati Update Berita Terbaru dari Bicaraa.com Setiap Hari Melalui Saluran Whatsapp, Bisa Klik Disini


POHUWATO, BICARAA.COM– Maraknya aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Popayato kian menjadi sorotan serius.

Dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan mulai dirasakan langsung oleh masyarakat, dan jika tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi krisis ekologis yang lebih besar di masa depan.

Sejumlah kawasan yang terdampak aktivitas PETI menunjukkan tanda-tanda kerusakan, mulai dari lahan kritis hingga terganggunya daerah aliran sungai.

Kondisi ini tidak hanya mengancam keseimbangan ekosistem, tetapi juga berdampak pada sumber air bersih dan lahan pertanian yang menjadi penopang kehidupan masyarakat setempat.

Aktivis buruh Popayato, Fadel Immawan Hamzah, menilai kondisi ini tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan biasa.

Menurutnya, dampak PETI telah masuk pada fase yang mengkhawatirkan dan membutuhkan penanganan segera.

“Kerusakan lingkungan akibat PETI di Popayato sudah sangat nyata. Kita tidak hanya bicara soal lubang tambang, tetapi juga hilangnya fungsi hutan, rusaknya aliran sungai, dan ancaman terhadap sumber air masyarakat,” ujar Fadel.

Ia menegaskan jika tidak ada langkah konkret dalam waktu dekat, masyarakat akan menghadapi risiko jangka panjang yang jauh lebih besar, termasuk potensi krisis air bersih dan menurunnya produktivitas lahan pertanian.

Merespons situasi tersebut, Fadel mendorong adanya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah provinsi, pemerintah daerah, pemerintah desa, serta instansi terkait bersama masyarakat.

Menurutnya, pendekatan bersama menjadi satu-satunya cara efektif untuk menekan dampak PETI.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan penertiban. Harus ada pendekatan kolaboratif yang melibatkan masyarakat sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar objek kebijakan,” tegasnya.

Upaya pemulihan lingkungan, lanjut Fadel, perlu segera dilakukan melalui langkah nyata seperti reboisasi di kawasan bekas tambang, pemulihan daerah aliran sungai, serta pencegahan sedimentasi yang semakin memperparah kondisi lingkungan.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya edukasi lingkungan kepada masyarakat agar kesadaran kolektif dapat terbentuk. Dengan begitu, masyarakat memiliki pemahaman tentang dampak jangka panjang dari aktivitas PETI.

“Edukasi itu penting. Kalau masyarakat paham dampaknya, mereka akan ikut menjaga. Ini bukan hanya soal hari ini, tapi soal masa depan generasi berikutnya,” katanya.

Pengawasan di kawasan rawan PETI juga dinilai harus diperkuat agar aktivitas ilegal tidak terus meluas. Fadel mengingatkan bahwa tanpa pengawasan yang konsisten, upaya pemulihan yang telah dilakukan berisiko sia-sia.

Meski pemulihan lingkungan tidak dapat dilakukan secara instan, ia optimistis bahwa langkah kecil seperti penghijauan dan rehabilitasi lahan dapat menjadi awal yang baik.

“Memang tidak bisa langsung kembali seperti semula, tapi kalau kita mulai sekarang, setidaknya kita sedang menyelamatkan masa depan lingkungan Popayato,” tutupnya. (*)