Gorontalo

FP3 dan FBTPI-KPBI Rapat Koordinasi Perkuat Konsolidasi Buruh Pohuwato

×

FP3 dan FBTPI-KPBI Rapat Koordinasi Perkuat Konsolidasi Buruh Pohuwato

Sebarkan artikel ini
Nikmati Update  Berita Terbaru dari Bicaraa.com Setiap Hari Melalui Saluran Whatsapp, Bisa Klik Disini

POHUWATO, BICARAA.COM – Front Pemuda Progresif Pohuwato (FP3) bersama Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia–Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (FBTPI-KPBI) mulai memperkuat konsolidasi pekerja di Pohuwato.

Rapat koordinasi yang digelar Jumat (25/09/2026) membahas kondisi pekerja, perusahaan yang belum memiliki serikat pekerja, hingga langkah membangun kekuatan kolektif sebagai ruang awal sebelum pembentukan serikat dan federasi pekerja di Gorontalo.

Sekretaris Jenderal FBTPI-KPBI Muhamad Arira Fitra hadir bersama sejumlah organisasi buruh lainnya yang berada dalam koordinasi FBTPI-KPBI.

Pertemuan tersebut juga diikuti pengurus FP3, Buruh dan LMID untuk membahas persoalan sosial dan ketenagakerjaan yang berkembang di Pohuwato.

Ketua FP3 Nazir Dunggio menyampaikan, masih terdapat pekerja di Pohuwato yang ingin memperjuangkan haknya, tetapi belum memiliki wadah untuk belajar, membangun kesadaran, dan memahami mekanisme perjuangan pekerja secara terorganisasi.

“Banyak pekerja di Pohuwato sebenarnya ingin melawan ketika haknya tidak terpenuhi. Tetapi mereka belum memiliki wadah untuk belajar dan menyadarkan diri tentang bagaimana memperjuangkan hak secara kolektif. Di situ FP3 hadir sebagai bekal awal bagi buruh untuk belajar sebelum kemudian dimajukan dalam organisasi serikat pekerja,” ujar Nazir.

Menurut Nazir, FP3 juga hadir untuk menjawab kebutuhan utama pekerja industri di Pohuwato. Ruang tersebut diperlukan agar pekerja memiliki tempat untuk menyampaikan persoalan, belajar mengenai hak-haknya, sekaligus membangun kekuatan bersama sebelum masuk dalam organisasi serikat pekerja.

“FP3 hadir untuk menjawab kebutuhan utama pekerja industri di Pohuwato. Serikat pekerja nantinya harus didirikan bukan untuk kepentingan politik pemerintah atau kelompok tertentu, tetapi untuk kepentingan pekerja. Serikat harus hadir mendampingi buruh dan membantu menyelesaikan masalah yang mereka hadapi,” kata Nazir.

Ia menjelaskan, pembentukan organisasi pekerja harus berangkat dari kebutuhan dan persoalan konkret yang dihadapi buruh di tempat kerja. Karena itu, proses konsolidasi akan diarahkan agar pekerja memahami fungsi organisasi dan mampu menentukan kebutuhan mereka secara kolektif.

“Serikat pekerja harus benar-benar menjadi rumah bagi buruh. Ketika ada persoalan upah, hubungan kerja, jaminan sosial, pemutusan hubungan kerja atau hak lainnya, organisasi harus hadir mendampingi dan mencari jalan penyelesaian. Bukan justru menjadi alat kepentingan pihak lain,” jelasnya.

FP3 akan mendorong pemetaan kondisi pekerja dan perusahaan di Pohuwato. Langkah awal dilakukan dengan membuka komunikasi bersama pekerja, menghimpun persoalan yang mereka hadapi, kemudian mengidentifikasi perusahaan yang belum memiliki serikat pekerja.

Setelah persoalan dan kebutuhan pekerja terpetakan, FP3 akan mendorong pembentukan organisasi pekerja di masing-masing perusahaan.

Jika terdapat persoalan hubungan industrial yang membutuhkan penyelesaian lebih lanjut, jalur komunikasi dengan perusahaan maupun pemerintah daerah dapat ditempuh, termasuk melalui mekanisme tripartit.

“Langkahnya tidak bisa langsung melompat. Kita harus menjaring pekerja, mendengar persoalan mereka, memberikan pemahaman, lalu membangun kekuatan kolektif. Kalau sudah ada persoalan hubungan industrial, kita bisa dorong penyelesaiannya melalui mekanisme yang tersedia, termasuk forum tripartit,” ujar Nazir.

Nazir mengatakan, FP3 juga akan terus membuka ruang komunikasi dengan pekerja di berbagai perusahaan di Pohuwato. Keluhan yang masuk akan dipetakan untuk melihat persoalan yang paling banyak dihadapi pekerja sekaligus menentukan langkah pendampingan.

“Yang kita bangun adalah kesadaran bahwa pekerja memiliki kekuatan ketika bergerak secara kolektif. Karena itu, FP3 akan menjadi ruang awal untuk belajar, berkonsolidasi dan mempersiapkan pekerja agar mampu membangun organisasi yang benar-benar berpihak pada kebutuhan buruh,” katanya.

Wakil Ketua FP3 Fadel Immawan Hamzah mengatakan, komunikasi dengan pekerja mulai muncul setelah FP3 dideklarasikan pada pekan sebelumnya.

Sejumlah pekerja menghubungi pengurus melalui media sosial untuk menyampaikan persoalan yang mereka alami di tempat kerja.

“Sekarang sudah banyak pekerja yang berkomunikasi langsung melalui media sosial, baik Facebook, TikTok maupun WhatsApp. Mereka menyampaikan persoalan tentang hak-hak yang belum terpenuhi di tempat kerja. Ini menunjukkan ada kebutuhan untuk membangun kekuatan kolektif massa buruh baru di sektor industri dan pekerja di Pohuwato,” kata Fadel.

Komunikasi tersebut tidak hanya berisi penyampaian keluhan. Sejumlah pekerja juga menyatakan kesiapan membangun kekuatan bersama dalam menghadapi persoalan ketenagakerjaan yang mereka alami.

“FP3 baru dideklarasikan pekan kemarin, tetapi komunikasi dari pekerja sudah mulai masuk. Mereka menyampaikan masalah sekaligus menyatakan kesiapan untuk membangun kekuatan kolektif. Kami siap saling bahu-membahu membangun kekuatan itu agar pekerja memiliki wadah dalam menyelesaikan persoalannya,” ujarnya.

Fadel menegaskan, FP3 tidak mengambil alih peran serikat pekerja. Organisasi tersebut diarahkan menjadi ruang awal bagi pekerja untuk membangun kesadaran, memahami persoalan ketenagakerjaan, dan mempersiapkan diri membentuk organisasi pekerja.

“Ini menjadi tuntutan pemuda untuk menyadarkan dan memberikan kemudahan kepada pekerja dalam menuntut haknya. Kalau kemudian pekerja sudah siap membangun serikat, kami akan mendorong dan mendukung proses tersebut,” tambah Fadel.

Sementara itu, Sekjen FBTPI-KPBI Muhamad Arira Fitra menyampaikan terima kasih kepada kelompok pemuda di Gorontalo, khususnya Pohuwato, yang telah membangun kekuatan kolektif pemuda baru. Langkah tersebut menjadi bagian awal sebelum didorong pada pembentukan serikat pekerja dan federasi pekerja di Gorontalo.

“ini kabar gembira bagi kami di DPP pusat, saya menyampaikan terima kasih kepada kawan-kawan Gorontalo, khususnya Pohuwato, yang sudah membangun kekuatan kolektif pemuda baru, hal Ini juga menjadi langkah awal sebelum kita dorong pembuatan serikat pekerja di Gorontalo,” ujar Arira.

Arira menyampaikan DPP FBTPI-KPBI pusat akan terus mendukung pekerja yang menghadapi persoalan di lapangan. Setiap persoalan yang muncul di daerah dapat disampaikan kepada organisasi untuk kemudian didorong melalui koordinasi di tingkat pusat.

“Dari DPP FBTPI-KPBI pusat akan selalu mendukung setiap pekerja di lapangan. Apa pun masalahnya, sampaikan kepada kami untuk didorong di tingkatan pusat. Jangan sampai pekerja menghadapi persoalan sendiri karena tidak memiliki saluran untuk menyampaikan masalahnya,” kata Arira.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan pemuda dalam mendampingi pekerja di Pohuwato. Pendampingan diperlukan agar persoalan pekerja tidak berhenti sebagai keluhan individual, tetapi dapat dibahas dan diselesaikan melalui kekuatan organisasi.

“Pengambilan hak pekerja di Pohuwato wajib didampingi dan diselesaikan oleh pemuda. Buruh juga harus tahu bahwa penindasan itu tidak bisa hilang begitu saja dengan menyerahkan begitu saja kepada takdir. Semua harus bergerak dan berdialektika untuk melawan persoalan yang dihadapi,” tegas Arira.

Arira melanjutkan, pekerja perlu memiliki ruang untuk belajar dan memahami persoalan yang mereka hadapi. Ketika terdapat hak yang belum terpenuhi, persoalan tersebut perlu disampaikan melalui jalur organisasi agar dapat dicari langkah penyelesaian.

“Kawan-kawan pekerja harus mulai belajar memahami persoalan mereka. Ketika ada hak yang tidak terpenuhi, jangan berhenti pada keluhan. Sampaikan, konsolidasikan, dan dorong penyelesaiannya melalui organisasi. Dari DPP, kami siap mengawal komunikasi dan persoalan yang membutuhkan dorongan di tingkat pusat,” ujarnya.

Arira juga mengapresiasi langkah FP3 yang mulai membuka komunikasi dengan pekerja meski organisasi tersebut baru dideklarasikan pada pekan sebelumnya. Konsolidasi tersebut akan menjadi bagian dari proses membangun organisasi pekerja di Gorontalo.

Rapat koordinasi kemudian diakhiri dengan kesepakatan untuk melanjutkan pembahasan mengenai organisasi buruh dan penyusunan program-program kerja. Pertemuan lanjutan antara FP3, LMID, FBTPI-KPBI dan jaringan organisasi buruh dijadwalkan berlangsung Jumat (02/10/2026). (*)