GorontaloPendidikan

Kasihan! 100 Siswa Berkebutuhan Khusus di SLB Pohuwato Kekurangan Bus Antar Jemput dan Alat Peraga Pendidikan

×

Kasihan! 100 Siswa Berkebutuhan Khusus di SLB Pohuwato Kekurangan Bus Antar Jemput dan Alat Peraga Pendidikan

Sebarkan artikel ini

BICARAA.COM, POHUWATO– Sekolah Luar Biasa (SLB) Kabupaten Pohuwato, yang berlokasi di Desa Teratai, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, mengalami kendala terkait ketersediaan bus antar jemput bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Belum lagi kurangnya alat peraga untuk mendukung pembelajaran para anak-anak berkebutuhan khusus, seperti tuna runggu, tuna grahita, tuna Netra, autis, tuna daksa, tuna ganda.

Hal itu disampaikan langsung  oleh Kepala Sekolah SLB Pohuwato, Empi Diane, saat diwawancarai oleh bicaraa.com, Rabu (22/05/2024).

Disaat itu pula, Kepala Sekolah yang telah mengabdikan hidupnya untuk masa depan anak-anak berkebutuhan khusus ini menyampaikan keluhannya terkait hal ini.

Menurut Empi, kebutuhan kendaraan antar jemput menjadi sangat penting karena anak-anak berkebutuhan khusus seringkali kesulitan untuk datang ke sekolah secara mandiri.

“Mereka bersemangat kalaupun kita jemput untuk datang bersekolah, mereka ikut bersama dengan kami sambil tersenyum dan tertawa bersama. Tapi kami tidak bisa lakukan itu terus menerus, karena jarak rumah antar siswa sangat berjauhan,” paparnya.

Oleh karena itu, keberadaan bus antar jemput akan mempermudah proses kedatangan mereka ke sekolah.

Hal ini menjadi prioritas utama karena partisipasi anak-anak dalam proses pendidikan sangat penting untuk perkembangan mereka.

“Biasanya orang tau mereka hanya sebatas bisa sekolah saja datang dan pergi biasa, tapi menurut kami, mereka harus bisa memiliki masa depan yang baik, walaupun dengan banyak keterbatasan di fisik dan gangguan lainnya,” ucapnya.

Selain itu, Empi juga mengungkapkan kebutuhan akan alat peraga yang memadai dalam pembelajaran anak-anak berkebutuhan khusus.

Beragam alat peraga seperti gradasi balok, silinder, menara gelang, puzzle bola, hearing head dan lainnya sangat penting untuk membantu anak-anak dalam proses pembelajaran.

“Sangat minim alat peraga kita pak, apalagi 100 anak-anak didik kita dari tingkatan SD, SMP, SMA memiliki potensi dan kreativitas yang tersembunyi yang harus dikembangkan, mungkin ini bisa menjadi perhatian kita bersama,” pungkasnya.

Bagi anak-anak tuna grahita lanjut Empi, diperlukan kartu huruf, kartu kata, kartu angka, serta berbagai jenis puzzle dan alat peraga lainnya.

Sedangkan untuk anak-anak autis, diperlukan alat peraga seperti radio, peta timbul, penggaris braille, dan sebagainya.

Empi Diane menegaskan bahwa kebutuhan ini bukanlah hal yang bisa diabaikan karena berkaitan dengan daya kembang anak yang didik.

“Banyak alat peraga mereka saat ini belum tersedia, padahal kita punya keinginan untuk anak-anak bisa mendapatkan kesempatan yang sama seperti anak normal yang lain, seperti bisa lanjut kuliah dan berprestasi,” tandasnya.

Meskipun seringkali dianggap sepele oleh sebagian orang, namun bagi pihak sekolah, hal ini sangat penting untuk memberikan anak-anak berkebutuhan khusus kesempatan yang sama dalam pendidikan.

Dalam hal ini lanjut Empi, anak-anak yang dididik harus memiliki masa depan yang cerah dan bisa mandiri dalam segala hal, atau setidaknya dapat meningkatkan potensi keterampilan yang mereka miliki.

Dengan adanya dukungan dari pemerintah dan masyarakat, diharapkan kebutuhan ini dapat segera terpenuhi.

“Banyak potensi mereka yang terpendam. Bahkan banyak piala prestasi mereka dari berbagai cabang lomba yang berjejer rapi di ruangan kami, semoga ini bisa menjadi perhatian Bersama,” tutupnya.(*)