Nikmati Update Berita Terbaru dari Bicaraa.com Setiap Hari Melalui Saluran Whatsapp, Bisa Klik Disini
POHUWATO, BICARAA.COM – Ketua Komisi II DPRD Provinsi Gorontalo, Mikson Yapanto, melaksanakan reses masa persidangan kedua tahun 2025–2026 di Desa Maleo, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Senin (9/02/2026).
Kegiatan ini dimanfaatkan warga untuk menyampaikan berbagai kebutuhan mendesak, terutama terkait ketersediaan air bersih serta dukungan pengadaan ternak sapi guna memperkuat ekonomi masyarakat desa.
Kepala Desa Maleo, Ahrudin A. Otoluwa, menyampaikan persoalan air bersih masih menjadi keluhan utama warga.
Sebagian masyarakat kesulitan memperoleh sumber air layak, khususnya saat musim kemarau, sehingga diperlukan solusi jangka panjang melalui pengadaan sumur suntik di beberapa titik permukiman.
“Air bersih adalah kebutuhan paling mendasar bagi masyarakat. Ketika musim kemarau datang, warga harus menempuh jarak cukup jauh hanya untuk mendapatkan air. Karena itu kami sangat berharap ada bantuan pengadaan sumur suntik agar kebutuhan air warga bisa terpenuhi secara berkelanjutan,” ujarnya.
Selain persoalan air, Ahrudin juga menyoroti pentingnya program pemberdayaan ekonomi melalui pengadaan sapi ternak bagi warga.
Ia menilai sektor peternakan memiliki potensi besar untuk meningkatkan pendapatan masyarakat apabila didukung bantuan ternak serta pendampingan dari pemerintah.
“Mayoritas warga memiliki pengalaman memelihara ternak. Jika ada bantuan pengadaan sapi, tentu akan sangat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi desa,” tambahnya.
Menanggapi aspirasi tersebut, Mikson Yapanto menegaskan bahwa kebutuhan air bersih merupakan persoalan dasar yang harus menjadi prioritas penanganan pemerintah.
Ia menilai, akses air bersih berkaitan langsung dengan kesehatan, kualitas hidup, serta aktivitas ekonomi masyarakat.
Ia menyatakan akan mengawal usulan pengadaan sumur suntik melalui koordinasi dengan pemerintah provinsi dan instansi teknis terkait agar dapat masuk dalam perencanaan program pembangunan.
Menurutnya, wilayah pesisir seperti Popayato memang membutuhkan perhatian khusus dalam penyediaan infrastruktur air bersih.
Terkait pengadaan sapi, Mikson menyebut program tersebut sejalan dengan upaya peningkatan ekonomi masyarakat desa berbasis potensi lokal.
Ia mendorong agar bantuan ternak nantinya disertai pendampingan, pembentukan kelompok peternak, serta pola pengelolaan yang jelas agar manfaatnya berkelanjutan.
“Bantuan tidak boleh berhenti pada penyaluran saja. Harus ada pendampingan dan sistem pengelolaan yang baik supaya ternak bisa berkembang dan benar-benar meningkatkan pendapatan warga,” tegasnya.
Mikson juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah desa, kabupaten, dan provinsi dalam merealisasikan aspirasi masyarakat.
Ia menyebut hasil reses akan menjadi bahan perjuangan di tingkat DPRD agar kebutuhan warga Desa Maleo mendapat perhatian dalam kebijakan anggaran.
“Reses ini bukan sekadar pertemuan, tetapi wadah resmi menyerap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat. Semua yang disampaikan warga akan kami kawal sampai ke tahap pembahasan program dan anggaran,” jelasnya.
Ia menambahkan, pembangunan harus dirasakan merata hingga desa-desa terpencil, termasuk di wilayah Popayato.
Peningkatan layanan dasar dan penguatan ekonomi rakyat menjadi kunci untuk mendorong kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
“Kami ingin memastikan masyarakat di desa tidak tertinggal. Air bersih harus tersedia, ekonomi warga harus tumbuh, dan pemerintah hadir memberikan solusi nyata,” pungkas Mikson.
Melalui reses tersebut, ia berharap berbagai kebutuhan mendasar masyarakat Desa Maleo dapat segera ditindaklanjuti sehingga pembangunan di wilayah Popayato semakin merata dan berdampak langsung pada kesejahteraan warga. (*)










