GorontaloPohuwato

Raflin Samindi, Korban Selamat Hanyutnya Kakek dan Adiknya di Sungai Popayato, Menceritakan Kejadian Sebenarnya, Faktanya Menyedihkan

×

Raflin Samindi, Korban Selamat Hanyutnya Kakek dan Adiknya di Sungai Popayato, Menceritakan Kejadian Sebenarnya, Faktanya Menyedihkan

Sebarkan artikel ini
Foto: Istimewa

BICARAA.COM, POHUWATO– Raflin Samindi (9), salah satu korban yang selamat dari peristiwa tragis hanyutnya kakek dan adiknya, Yunus Ismail (52) dan Rampi Samindi (6), menyampaikan kronologis kejadian yang menimpa mereka bertiga.

Dijelaskannya, awalnya Raflin dan Rampi tinggal bersama ayahnya di Desa Londoun, Kecamatan Popayato Timur, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo.

Pada Selasa (17/08/2024), mereka pergi berlibur ke rumah kakek dan neneknya di Desa Tingki, Kecamatan Popayato, karena masih bersedih atas meninggalnya ibu mereka 100 hari yang lalu.

“Awalnya saya dan Rampi tinggal sama Ayah di Desa Londoun. Kami ke rumah kakek dan nenek di Desa Tingki karena masih sedih setelah 100 hari Ibu meninggal,” ungkap Raflin.

Besok paginya, tepat pukul 11:00 WITA, kakeknya, Yunus Ismail, mengajak Raflin dan Rampi untuk memindahkan sapi yang berada di seberang sungai.

Saat pergi, Rampi digendong dengan cara dibopong oleh Yunus Ismail, sedangkan Raflin berjalan di samping kakeknya.

“Besok paginya, kakek mengajak kami memindahkan sapi yang ada di seberang sungai. Rampi digendong oleh kakek, sedangkan saya berjalan di sampingnya,” jelas Raflin.

Sesampainya di tepian sungai, Raflin melihat arus sungai yang kencang dengan debit air sungai yang telah tinggi. Ia pun memperingatkan sang kakek untuk tidak menyeberang.

Namun, sang kakek hanya berkata bahwa mereka akan tenggelam jika kakek juga tenggelam, hingga pada akhirnya sang kakek tenggelam karena tidak mampu menahan arus sungai yang deras.

“Saat sampai di tepian sungai, saya melihat arus sungai telah naik. Saya memperingatkan kakek untuk tidak menyeberang. Namun, kakek berkata ‘kita akan tenggelam bersama jika kakek juga tenggelam’. Akhirnya, kakek tenggelam karena tidak mampu menahan arus sungai,” ujar Raflin.

Dalam momen tersebut, Raflin menjelaskan bahwa yang hanyut terlebih dahulu adalah kakeknya.

Adiknya, Rampi, sempat diselamatkan oleh Raflin dan berpegangan di bahunya sambil berenang menuju tepian sungai untuk menyelamatkan diri.

Namun, karena kelelahan, Raflin tidak mampu lagi menahan pegangan Rampi, sehingga Rampi ikut terhanyut juga.

“Yang hanyut duluan adalah kakek. Adik saya, Rampi, sempat saya selamatkan dan berpegangan di bahu saya sambil berenang ke tepian. Tapi karena kelelahan, saya tidak mampu menahan pegangan Rampi, sehingga dia ikut terhanyut juga,” kata Raflin dengan suara gemetar.

Sesampainya di tepian sungai, Raflin masih memperhatikan adiknya, Rampi, muncul di permukaan sungai. Namun, dirinya tidak lagi melihat adiknya setelah itu.

“Sampai di tepian sungai, saya masih melihat adik saya muncul di permukaan air, tapi kemudian saya tidak melihatnya lagi,” tutup Raflin dengan air mata yang berlinang.

Tragedi ini meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga Raflin dan masyarakat setempat.

Hingga kini, pencarian terhadap Ramdi masih terus dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, serta unsur TNI dan Polri, bersama masyarakat setempat. (*)