Nikmati Update Berita Terbaru dari Bicaraa.com Setiap Hari Melalui Saluran Whatsapp, Bisa Klik Disini
BICARAA.COM– Di bawah ancaman serangan udara Israel, ribuan umat Muslim Palestina tetap melaksanakan sholat Idulfitri walaupun ditengah reruntuhan, Minggu (30/3/2925).
Mansour Shouman, jurnalis Palestina yang pernah bermukim di Gaza, dikutip dari Al Jazeera, masyarakat Gaza bertekad mempertahankan tradisi Idulfitri sebagai bentuk ketahanan sosial.
“Dari pagi hari, keluarga-keluarga berusaha saling mengunjungi dan menyelesaikan konflik antar kerabat di momen spesial ini,” ujarnya.
Namun, ia mengakui generasi anak-anak Gaza kini tak lagi merasakan kegembiraan Idulfitri seperti sebelum perang akibat krisis ekonomi yang parah.
Tragedi kembali terjadi dini hari tadi ketika serangan Israel menghantam rumah dan tenda pengungsi di Khan Yunis.
“Delapan syuhada termasuk lima anak-anak gugur dalam serangan ini,” lapor Mahmud Bassal dari Badan Pertahanan Sipil Gaza kepada AFP.
Ironisnya, insiden ini terjadi bersamaan dengan upaya mediasi gencatan senjata oleh Mesir, Qatar, dan AS.
Hamas mengaku telah menerima proposal gencatan terbaru, sementara Israel menyatakan telah memberikan kontra usulan.
Namun, perdamaian tetap menjadi mimpi jauh ketika serangan masih berlanjut di hari raya.
Di tengah kepedihan, warga Gaza tetap mempertahankan tradisi dengan membuat qatayef (kue tradisional) dan saling mengunjungi keluarga.
Seorang ibu di Rafah bercerita: “Kami hanya bisa membagikan kurma dan air untuk anak-anak, tapi setidaknya kami masih bisa berkumpul.”
Perayaan Idulfitri tahun ini menjadi saksi bisu keteguhan rakyat Palestina yang memilih merayakan kemenangan spiritual di tengah reruntuhan fisik dan mental.
Sebagaimana doa yang mereka panjatkan: semoga Idulfitri berikutnya bisa dirayakan dalam keadaan merdeka. (*)