Satire

Kenapa Pejabat Sering Datang Sebentar Lalu Cepat Pulang

×

Kenapa Pejabat Sering Datang Sebentar Lalu Cepat Pulang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Fenomena Pejabat Pulang Sebelum Acara Selesai, Gambar: (Rifal/bicaraa.com)

Update Berita Terbaru dari Bicaraa.com Setiap Hari Melalui Saluran Whatsapp, Bisa Klik Disini


BICARAA.COM– Ada satu adegan yang hampir selalu hadir dalam acara resmi: kursi depan yang awalnya terisi penuh, perlahan kosong sebelum acara benar-benar masuk inti.

Pejabat datang, memberikan sambutan, tersenyum dalam sesi foto, lalu pamit dengan kalimat yang sudah sangat akrab, “ada agenda lain.”

Yang tersisa kemudian adalah peserta yang masih bertahan, mencoba memahami mengapa acara dua jam bisa terasa jauh lebih panjang.

Secara formal, alasan “agenda padat” memang sulit dibantah. Dalam logika manajemen waktu, menghadiri beberapa acara dalam satu hari adalah bentuk efisiensi.

Namun, jika dilihat lebih dalam, ada faktor lain yang bekerja secara diam-diam, yakni keterbatasan manusia dalam mempertahankan fokus pada kegiatan yang tidak efektif.

Dalam kajian psikologi kognitif, dikenal istilah attention span atau rentang perhatian.

Rata-rata manusia dewasa hanya mampu mempertahankan fokus optimal selama 20 hingga 30 menit. Setelah itu, konsentrasi akan menurun secara alami.

Fenomena ini sejalan dengan apa yang dijelaskan oleh Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking, Fast and Slow.

Otak manusia cenderung menghindari beban kognitif yang terlalu berat atau berlarut-larut.

Ketika suatu aktivitas dianggap tidak efisien atau terlalu melelahkan secara mental, manusia secara alami akan mencari jalan keluar, baik secara sadar maupun tidak.

Masalahnya, dalam banyak kasus, yang pertama “menyerah” bukan peserta biasa, melainkan mereka yang duduk paling depan.

Sebab di titik tertentu, acara tidak lagi soal menyimak, melainkan soal bertahan.

Dan tidak semua orang termasuk pejabat—punya kesabaran yang cukup panjang untuk itu.

Fenomena ini juga dapat dibaca melalui konsep decision fatigue, yang populer dalam buku Willpower: Rediscovering the Greatest Human Strength karya Roy Baumeister.

Dalam konsep tersebut dijelaskan semakin banyak keputusan yang harus diambil seseorang dalam satu hari, semakin menurun kualitas energi mentalnya.

Pada titik tertentu, individu cenderung memilih jalan paling mudah, termasuk mengakhiri keterlibatan dalam suatu aktivitas.

Dalam konteks ini, keputusan pejabat untuk meninggalkan acara lebih awal sering kali dibungkus dengan narasi efisiensi.

Padahal, publik mulai membaca pola yang berulang: hadir, bicara, lalu pergi, seolah kehadiran cukup diwakili oleh mikrofon dan dokumentasi.

Di sisi lain, kehadiran pejabat memang kerap diposisikan sebagai simbol. Cukup datang, memberikan sambutan, lalu terekam kamera.

Setelah itu, keberadaan fisik tidak lagi dianggap penting. Namun, di sinilah ironi itu muncul.

Ketika pejabat yang seharusnya menjadi bagian dari keseluruhan acara justru hanya hadir di bagian paling ringan, sementara bagian substansi ditinggalkan begitu saja.

Fenomena ini kemudian membentuk kebiasaan baru yang terasa janggal, tetapi dianggap normal.

Kursi depan menjadi cepat kosong, sementara acara masih berjalan seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.

Padahal, bagi sebagian peserta, kehadiran pejabat bukan sekadar formalitas. Ada harapan untuk mendengar, berdialog, atau setidaknya melihat keseriusan hingga akhir acara.

Ketika itu tidak terjadi, yang tersisa hanyalah kesan bahwa kehadiran tadi lebih dekat pada kewajiban seremonial daripada komitmen nyata.

Maka, jika fenomena ini terus berulang, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan lagi soal agenda padat atau durasi acara.

Melainkan, seberapa besar sebenarnya kesediaan untuk hadir secara utuh, bukan sekadar singgah sebentar lalu pergi.

Sebab pada akhirnya, pulang cepat bukan hanya soal waktu, tetapi juga soal sikap.

Dan publik, perlahan, mulai bisa membedakan antara yang benar-benar hadir, dan yang sekadar terlihat hadir. (*)