International

Nilai Rial Iran Anjlok Drastis Di Tengah Protes Massal Rakyat

×

Nilai Rial Iran Anjlok Drastis Di Tengah Protes Massal Rakyat

Sebarkan artikel ini
Mata Uang Rial, Iran, Gambar: (reuters)

Nikmati Update Berita Terbaru dari Bicaraa.com Setiap Hari Melalui Saluran Whatsapp, Bisa Klik Disini


POHUWATO, BICARAA.COM – Perekonomian Iran kian terpuruk di tengah gelombang protes massal yang terus meluas.

Selama hampir satu tahun terakhir, nilai mata uang rial Iran mengalami kejatuhan drastis hingga kehilangan sekitar 96 persen dari nilainya.

Kondisi ini menempatkan rial pada titik terendah dalam sejarah terhadap mata uang utama dunia.

Berdasarkan laporan PryamiyTV per 11 Januari 2026, satu rial Iran kini hanya bernilai sekitar 0,00000086 euro.

Dengan nilai tersebut, satu euro setara dengan lebih dari 1,16 juta rial.

Sementara terhadap dolar Amerika Serikat, satu rial hanya bernilai sekitar 0,0000010 dolar AS.

Angka ini menunjukkan pelemahan ekstrem dibandingkan era Revolusi Iran 1979, ketika satu dolar AS masih setara dengan sekitar 70 rial.

Anjloknya nilai tukar ini berdampak langsung pada lonjakan inflasi domestik.

Inflasi di Iran dilaporkan telah melampaui 40 persen, sementara harga pangan melonjak lebih dari 60 persen.

Kenaikan harga tersebut secara signifikan menggerus daya beli masyarakat dan memperburuk kondisi sosial ekonomi, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah.

Melemahnya mata uang Iran terjadi di tengah kombinasi tekanan internal dan eksternal.

Protes massal rakyat, penindakan aparat keamanan, serta meningkatnya ketegangan geopolitik menjadi faktor utama yang mempercepat kejatuhan rial.

Dalam empat dekade terakhir, nilai mata uang Iran tercatat telah merosot hingga sekitar 20.000 kali lipat.

Pemerintah Iran kerap menyalahkan sanksi internasional, inflasi struktural, dan isolasi diplomatik sebagai penyebab utama krisis ekonomi.

Pada September 2025, Perserikatan Bangsa-Bangsa kembali menjatuhkan sanksi terhadap Iran setelah Dewan Keamanan gagal memperpanjang keringanan sanksi terkait kesepakatan non-proliferasi nuklir.

Sanksi tersebut mencakup embargo senjata konvensional, pembatasan program rudal balistik, pembekuan aset, serta larangan perjalanan.

Uni Eropa juga memberlakukan sanksi tambahan terhadap Iran, termasuk terkait pelanggaran hak asasi manusia dan dugaan keterlibatan Teheran dalam penyediaan drone ke Rusia.

Akibat tekanan ini, Iran diperkirakan kehilangan sekitar 20 persen potensi pendapatan ekspor minyaknya.

Untuk menghindari sanksi, Iran terpaksa menjual minyak melalui jalur tidak langsung dengan biaya tinggi.

Minyak sering dijual dengan harga diskon, menggunakan perantara, perusahaan fiktif, serta armada tanker bayangan.

Praktik ini menurunkan pendapatan bersih negara secara signifikan.

Iran Open Data memperkirakan hingga Maret 2025, Iran hanya meraup sekitar 23,5 miliar dolar AS dari ekspor minyak, jauh di bawah potensi lebih dari 28 miliar dolar AS.

Bank Dunia mencatat Iran telah mengalami “dekade pertumbuhan ekonomi yang hilang.”

Produk domestik bruto per kapita rata-rata terkontraksi 0,6 persen per tahun antara 2011 hingga 2020.

Dalam periode tersebut, hampir 10 juta warga Iran jatuh ke dalam kemiskinan, dengan tingkat kemiskinan meningkat dari 20 persen menjadi 28,1 persen.

Di sisi lain, struktur ekonomi Iran juga ditandai dengan dominasi Garda Revolusi Iran (IRGC) yang menguasai sektor-sektor strategis, mulai dari minyak dan gas hingga infrastruktur dan logistik.

Sistem ekonomi paralel ini, yang kerap disebut sebagai “ekonomi perlawanan”, dinilai justru memperkuat kekuasaan kelompok tertentu di tengah krisis.

Sementara sektor swasta dan masyarakat luas semakin terpinggirkan. (*)


Share:   

Baca Berita Kami Lainnya di: